Home Features Sisi Gelap dan Kejayaan Era Awal Atari

Sisi Gelap dan Kejayaan Era Awal Atari

0
Photo: facebook.com/HistoricPhotographs – Atari founders Ted Dabney, Nolan Bushnell, Fred Marincic and Al Alcorn pose with a Pong machine, 1972. (Colorized by Gekkouga)

Pada awal 1970-an, insinyur Nolan Bushnell dan Ted Dabney mendirikan Atari usai terinspirasi dari game Spacewar karya mahasiswa MIT. Berbekal pengalamannya di arena hiburan, Bushnell mengemas game tersebut menjadi lebih ringkas berkonsep koin (Computer Space), sebelum akhirnya merilis Pong dan konsol rumahan legendaris Atari 2600 pada tahun 1977. Konsol ini sukses besar menguasai pasar dan mengalahkan pesaing terdekatnya, Intellivision, hingga sepuluh banding satu.

Namun, di balik keberhasilan finansialnya, Atari memiliki budaya perusahaan yang sangat unik sekaligus kontroversial. Kantor pusat Atari dikenal dengan rapat bisnis di dalam kolam panas (hot tub), kepulan asap ganja, hingga tawaran rapat tanpa busana bagi staf wanita. Kendati norma tempat kerja kala itu sangat bebas, Atari tercatat sebagai salah satu startup Silicon Valley yang paling banyak mempekerjakan dan mempromosikan perempuan.

Carol Kantor bergabung pada tahun 1973 dan menginisiasi departemen riset pasar pertama dalam sejarah industri game. Di lini teknis, Dona Bailey hadir sebagai salah satu programmer perempuan langka yang turut menciptakan game populer Centipede. Di luar divisi teknologi yang didominasi pria, lini perakitan dan riset Atari mayoritas diisi oleh tenaga kerja perempuan.

Photo: ebay

Masa kepemimpinan Bushnell berakhir setelah ia menjual Atari ke Warner Communications senilai 28 juta Dolar AS pada 1976 dan resmi didepak dua tahun kemudian. Sebelum hengkang, Bushnell sempat mencetuskan konsep restoran Chuck E. Cheese’s Pizza Time Theater. Menariknya, Bushnell juga pernah menolak tawaran investasi sepertiga saham Apple senilai 50.000 Dolar AS dari mantan karyawannya, Steve Jobs dan Steve Wozniak—sebuah keputusan yang kelak ia akui sebagai kecerobohan terbesar sepanjang hidupnya.

Photo: A potluck on the assembly line. Photo courtesy of the Atari Museum

Sejak era 1980-an, kejayaan Atari mulai meredup akibat gempuran komputer pribadi dan dominasi Nintendo, hingga berujung pada kebangkrutan pada tahun 2013. Sisi kelam kultur internal Atari kembali menyeruak ke publik pada tahun 2018 saat maraknya gerakan #MeToo. Dampak dari tagar #NotNolan di media sosial membuat Game Developers Conference mencabut penghargaan Pioneer Award yang sebelumnya ditujukan bagi Bushnell. Bushnell merespons keputusan tersebut dengan legawa dan menyampaikan permohonan maaf terbuka jika budaya kerja di masa lalunya pernah melukai pihak tertentu. Meski diterpa kontroversi, para perintis perempuan di Atari seperti Carol Kantor tetap mengenang masa-masa tersebut sebagai batu loncatan karier yang sangat berharga.

NO COMMENTS

Exit mobile version