Hampir semua orang mengenali logo lidah menjulur milik The Rolling Stones sebagai lambang perlawanan rock and roll yang tak lekang oleh waktu. Di balik desainnya yang berani, terdapat persimpangan unik antara dunia seni rupa, sejarah musik, dan mitologi kuno.
Pada tahun 1970, band yang sudah berjaya sejak era 1960-an ini membutuhkan desain poster baru untuk tur Eropa mereka. Tidak puas dengan konsep perusahaan rekaman, mereka menghubungi Royal College of Art di London dan merekrut mahasiswa tahun akhir bernama John Pasche. Pertemuan Pasche dengan Mick Jagger berbuah manis, hingga akhirnya Jagger memberinya tugas yang jauh lebih besar: merancang logo resmi untuk Rolling Stones Records.

Saat membahas konsep logo yang sederhana dan tegas, Jagger memperlihatkan gambar Dewi Kali—salah satu figur paling kuat dalam mitologi Hindu yang diasosiasikan dengan waktu, kehancuran, dan perlindungan—dengan lidah yang menjulur. Gambar yang ditemukan Jagger di kios koran lokal itu menjadi pemicu utama terciptanya logo tersebut. Pasche menerjemahkan visual lidah Dewi Kali ke dalam bahasa desain modern: simbol anti-otoritas, keberanian, dan perlawanan mentah tanpa pernah berniat menjadikannya replika bibir Mick Jagger.
Logo Tongue and Lips tersebut akhirnya resmi meluncur pada 1971 di sampul dalam album Sticky Fingers. Untuk karya revolusioner yang mendunia ini, Pasche hanya menerima bayaran sebesar £50, ditambah bonus £200 untuk proyek poster tur berikutnya hingga tahun 1974.
Lebih dari setengah abad berlalu, dari panggung megah hingga industri fesyen global—termasuk sentuhan ulang oleh Shepard Fairey pada perayaan ulang tahun band ke-50 di tahun 2012—logo ini terus membuktikan bagaimana mitologi kuno dan dunia musik dapat menyatu menjadi mahakarya abadi.