Duo ambient post-rock asal Jakarta yang terbentuk sejak 2020, In Inertia, resmi merilis album studio kedua mereka bertajuk Unfamiliar Weather pada 31 Juli 2026. Diproduseri langsung oleh kedua personelnya, Annissa Utami dan F.A. Poetra Tiarda, album ini menjadi mahakarya paling ambisius mereka yang merangkum 24 lagu berdurasi total 90 menit dengan membawa nuansa sci-fi, shoegaze, hingga post-rock yang sinematik.
Menariknya, In Inertia membuktikan bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang. Seluruh proses produksi album dikerjakan sepenuhnya dari kamar tanpa menyewa studio rekaman profesional. Untuk memoles dinamika ritmisnya, mereka menggandeng Janu Rahadi (inthebleakwinter) dan Raoul Dikka (Low Pink) sebagai drum consultant.

Melanjutkan kiprah internasional mereka setelah sempat tampil di CAN Festival (Zhoushan, China), Unfamiliar Weather melibatkan kolaborator lintas genre dan negara. Album ini menghadirkan sentuhan Reruntuh, Gardika Gigih, Niskala (Yogyakarta), hingga gitaris Kazuma Okabayashi asal Tokyo, Jepang. Konsep visual dunianya pun digambar secara apik oleh ilustrator asal China, Quinn Liu. Album ini hadir sebagai sebuah pengalaman mendengarkan yang utuh, mengajak pendengar meresapi proses perubahan dan penerimaan emosional di tengah situasi yang asing.