Saturday, July 18, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeFeaturesBangkit dari Cap 'BunDir Karier', Slowdive Buktikan Eksistensi Shoegaze Lintas Generasi

Bangkit dari Cap ‘BunDir Karier’, Slowdive Buktikan Eksistensi Shoegaze Lintas Generasi

Perjalanan band shoegaze asal Inggris, Slowdive, adalah kisah nyata tentang ketahanan sebuah karya. Bubar pada tahun 1995 setelah hanya aktif sekitar setengah dekade, sang gitaris Neil Halstead tidak pernah menyangka bahwa mereka akan meraih kesuksesan masif tiga dekade kemudian. Berbicara dengan Buzz di South Wales menjelang tur Inggris mereka, Neil mengenang masa lalu bandnya yang penuh dinamika.

Saat masih remaja di awal 90-an, Slowdive menandatangani kontrak dengan Creation Records. Meskipun sempat akrab nongkrong di London bersama band seangkatan seperti Chapterhouse, Moose, dan Blur, mereka segera menghadapi kritik brutal dari media musik seperti NME dan Melody Maker. Puncaknya, album Pygmalion dinilai buruk oleh kritikus, yang berujung pada pemutusan kontrak. Ketegangan sempat terjadi saat mendiang Richey Edwards dari Manic Street Preachers melontarkan ujaran kebencian ekstrem kepada band tersebut, sebuah momen yang hingga kini masih membuat Neil heran karena Rachel Goswell sebenarnya berteman baik dengan Richey.

Pasca-bubar, para personel sempat membentuk proyek musik Americana bernama Mojave 3 bersama Ian McCutcheon. Titik balik besar terjadi sepuluh tahun lalu, tepatnya Mei 2014, saat formasi orisinal Slowdive (Neil, Rachel, Nick Chaplin, Christian Savill, dan Simon Scott) resmi reuni di panggung raksasa Primavera Festival, Barcelona. Momen magis lainnya menyusul saat mereka diajak tur oleh band idola masa remaja mereka, The Cure, pada tahun 2017.

Kini, Slowdive telah menelurkan dua album baru yang sukses, termasuk Everything Is Alive (2023). Menariknya, musik distorsi melankolis mereka justru meledak di era modern berkat TikTok, di mana tagar #shoegaze dan #slowdive meraup lebih dari satu miliar penayangan. Dari tur Amerika Selatan di Argentina, São Paulo, dan Bogotá yang riuh, Neil mengaku bersyukur melihat konser mereka kini dipadati oleh tiga generasi penonton: para penggemar lama, anak-anak mereka, hingga sang cucu.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments

Mike Jolley on Single