Thursday, August 20, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeLifestyleDi Balik FRED PERRY dan Rebutan Kultur Anak Muda Inggris

Di Balik FRED PERRY dan Rebutan Kultur Anak Muda Inggris

Perjalanan merek FRED PERRY merupakan potret sejarah subculture anak muda di Inggris. Didirikan pada tahun 1952 di London oleh sang legenda tenis Frederick John Perry—atlet pemenang Career Grand Slam era 1930-an—merek ini awalnya merilis wristband sebelum menciptakan polo shirt dengan siluet pas di badan. Logo mahkota daun dafnah (laurel) diangkat dari piala turnamen Wimbledon atas izin resmi. Aksen tip lines (garis melingkar di kerah dan lengan) yang menjadi ciri khasnya justru muncul berkat ide kreatif dari para suporter sepak bola Inggris. Hingga kini, seri klasik The Fred Perry Shirt – M12 masih tetap diproduksi di Stockport, tempat kelahiran Perry.

Source: facebook.com/fredperry

Seiring berjalannya waktu, fungsi busana olahraga ini bergeser menjadi simbol fashion lintas generasi. Pada dekade 1960-an, komunitas anak muda Mods menjadikan kaos polo ini sebagai busana dalaman saat mengenakan setelan jas, karena kainnya tahan kusut meski dipakai berdansa semalaman di klab malam. Kepopuleran gaya busana ini diabadikan secara apik dalam film kultus Quadrophenia. Memasuki era 1970-an hingga 1980-an, subkultur Skinheads menjadikan kaos polo FRED PERRY sebagai “seragam” utama yang dipadukan dengan celana jins gulung, suspender, dan sepatu boot Dr. Martens.

Lompat ke era 1990-an, gelombang Britpop meledak dan membawa FRED PERRY ke puncak kejayaan baru. Band-band papan atas seperti Oasis, Blur, The Specials, hingga musisi ikonik macam Paul Weller dan Freddie Mercury kerap mengenakan track jacket serta kaos polo FRED PERRY di atas panggung maupun video musik mereka. Lebih dari 70 tahun berdiri, FRED PERRY terbukti bukan sekadar merek pakaian olahraga, melainkan bagian penting dari identitas sejarah musik, busana, dan subculture Inggris.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments

Mike Jolley on Single