Siapa sangka kalau band legendaris asal Liverpool, The Beatles, pernah mencoba peruntungan di genre reggae? Musik Jamaika memang punya daya tarik yang luar biasa. Saat Bob Marley mulai mendunia di tahun 70-an, banyak musisi Inggris yang gatal ingin mencoba vibe santai tersebut. Meskipun melihat musisi Inggris main reggae sering bikin pencinta musik deg-degan, hal itu nggak menghentikan langkah The Fab Four.
Sebenarnya, benih-benih reggae sudah muncul sejak lama di karya mereka. Pada tahun 1964, lewat lagu “Call Your Name“, The Beatles sudah bereksperimen dengan ketukan ska. Lalu, siapa yang bisa lupa dengan “Ob-La-Di, Ob-La-Da” di The White Album? Meskipun lagu itu punya irama rocksteady yang asyik buat joget, John Lennon sendiri sempat mengaku kalau proses rekaman lagu itu sangat menyebalkan baginya.
Nah, setelah The Beatles bubar, barulah John Lennon dan Paul McCartney makin serius menjajal genre ini. Berbeda dengan George Harrison yang fokus menyelesaikan tabungan lagu lamanya yang dulu sempat terabaikan, Lennon dan McCartney tampak sedikit “tersesat” dan mencoba mencari identitas baru dengan mengikuti tren dunia.
McCartney mencoba unsur reggae lewat lagu “Love Is Strange” dalam album perdana band barunya, Wings, yang berjudul Wild Life. Sementara itu, Lennon memasukkan unsur reggae dalam lagu “Mind Games” Lennon bahkan sempat curhat betapa susahnya menjelaskan apa itu musik reggae kepada musisi Amerika pada tahun 1973. Menurutnya, bagian middle eight di lagu tersebut murni adalah reggae.
Meskipun hasil eksperimen ini lumayan enak didengar, banyak kritikus menilai karya-karya reggae mereka bukanlah pencapaian terbaik. Sepertinya, itu hanyalah fase di mana dua musisi besar sedang mencoba menemukan kembali jati diri mereka setelah lepas dari bayang-bayang band terbesar di dunia. Menarik untuk disimak, tapi ya, ada alasan kenapa mereka tetap lebih dikenal sebagai ikon rock ‘n roll daripada bintang reggae.



